Perutku semakin keras menjerit karena kelaparan. Kakiku kaku seolah terpasung bertahun-tahun. Mataku seperti tak terpejamkan selama berhari-hari. Badanku serasa dilempari dengan batu kerikil. Sakiiiit semua! Karena terlalu lama aku duduk dan melamun, tanpa ada aktifitas sedikitpun. Rasa bosan pun tak enggan untuk menyapa. Tak sanggup rasanya aku untuk bangun dan bergegas pulang. Namun aku berpikir, apabila aku tak segera pulang, lantas siapa yang sudi menggendongku dan mengantarku pulang ke rumah?
Ku pandangi tas berwarna merah bercorak hitam yang terletak di pojok ruangan dan perlahan aku meraihnya. Ya, tas itu adalah milikku. Tas yang berisi penuh dengan buku-buku pelajaran dan peralatan sekolah, serta beberapa lembar uang kertas yang kuselipkan di kantong depan. Masih dengan duduk bersila, ku letakkan tas itu di punggungku. Beban di dalam tas itu terasa semakin berat seiring dengan aku yang mencoba untuk berdiri.
“Hoam..”
Sudah kesekian kalinya aku menguap. Rasanya ingin ku buang tas yang terlanjur berada di punggungku, dan segera mencari tempat di mana aku bisa terlelap. Tapi sepertinya tak mungkin aku bisa menemukan kasur untuk aku tidur. Ya, karena ini sekolah.
Dengan kondisi sempoyongan, aku berjalan turun. Namun tak disangka, dia telah berdiri tegap di antara tangga lengkap dengan senyum tersungging di wajahnya. Seolah ingin mencegatku, karena beberapa bocah telah lolos turun dengan santainya.
“Jangan kapok latian ya.”
“Emm,.. iya mas. Permisi pulang dulu ya.”
“Iya. Hati-hati di jalan.”
Apakah aku berjalan dengan tertidur ? Sehingga aku bermimpi berbicara dengan laki-laki itu sampai-sampai suaranya tampak begitu nyata. Oh Tuhan, berilah aku peringatan bahwa ini bukanlah sekedar mimpi bagiku. Ternyata Tuhan mendengar doaku. Memang dasar aku anak yang ceroboh, tanpa melihat jalan aku terjatuh dari anak tangga yang ke dua dari atas “brakk ..”.
Sontak orang-orang di sekitar tempat itu tertawa melihatku. Dengan wajah sedikit memerah aku mencoba untuk berdiri. Tak ku sangka laki-laki itu segera menghampiriku dan mengulurkan tangan kanannya padaku. Ia berusaha menarikku untuk bangun.
“Sini, biar kakak bantu..”
“eh ..”
“Makannya kalo jalan liat bawah, jangan liat aku mulu. Uda dibilang hati-hati juga. Hehehe. Kamu gapapa kan ?”
“Ihh .. Gapapa kok”
Tak ingin berlama-lama, ku lepas genggamannya dariku meski di dalam hati aku menginginkan yang sebaliknya. Dengan berat ku langkahkan kaki menuju pintu utama aula tersebut. Akupun berhasil menginjakkan kaki tepat di depan pintu. Lapangan terlihat lengang, mushola yang biasanya menjadi tempat teramai pun ikut sunyi. Tak terasa, waktu memang telah menunjukkan pukul 17.54 WIB. Karena takut kemalaman ku percepat langkah kakiku untuk dapat sampai ke pintu gerbang.
Hatiku gelisah, aku bingung. Tak pernah aku keluar dari gerbang sekolah semalam ini. Namun semua itu terpecahkan. Segera ku raih telpon genggam yang sedari tadi siang berada di saku kanan rokku. Ku cari nama ‘kakak’ di daftar kontak. Ku tulis pesan ‘kak, jemput aku di depan sekolah ya’, segera ku pencet tombol ‘ok’ dan pesan tersebut terkirim. Raut wajahku semakin gelisah menunggu jawaban pesan tersebut. Sempat terlintas di otakku untuk pulang sendiri dengan menaiki angkutan umum. Namun, aku masih belum terlalu berani untuk hal itu. Karena beberapa pengalaman buruk yang pernah kualami dan membuat diriku merasakan trauma. 1 menit, 2 menit, 5 menit, hingga 10 menit aku menunggu bergetarnya telpon genggam itu. Di menit ke 11, jawaban pesan itupun muncul yang berisi ‘iya, tunggu bentar ya, aku sholat dulu’. Deg ! rasa takut menghampiriku. Bayangan akan menunggu dengan waktu yang lama berputar-putar di kepalaku.
Langit berubah menjadi gelap gulita, angin bertiup lembut namun menusuk tulang. Daun-daun berterbangan di jalan. Lalu lalang kendaraan bermotor semakin ramai, namun tetap saja aku merasa takut. Tak berapa lama, lampu jalan dinyalakan. Waktu telah menunjukkan pukul 18.15 WIB. Pria cungkring dengan jaket kulit warna hitam tak tampak di mataku. Mondar mandir diriku mengobati kegelisahan.
Tak berapa lama, gerombolan kakak kelas muncul dengan kendaraan masing-masing seolah hendak balapan. Salah satu dari mereka terlihat sedang membenahi resleting jaket. Yaay, itu dia! Dari raut wajahnya, tampak sebuah keraguan. Akhirnya di parkirkan motornya, ia berjalan mendekatiku dan bertanya,
“Rumahmu dimana?”
Wow !! Benarkah ini ? Nyatakah ini ? Merasa GR ingin di antar pulang, aku menjawab dengan suara lembut,
“Di Tunjung Sekar”
“Waduh !”
Waduh ? Kata itu membuatku putus harapan. Pasti ada suatu hal yang menyebabkan dia berkata seperti itu. Apa mungkin kita tidak searah ? Atau karena hari terlampau gelap? Tak tahulah, lagi pula aku juga sudah menghubungi kakakku. Fiuh !
Dia berjalan menuju guru pengajar yang kebetulan mengendarai mobil. Rupanya guru itu searah denganku. Aku tau pasti dia akan menyuruhku untuk nebeng pada guru itu. Dengan pedenya aku berkata,
“Saya dijemput kok, mungkin sebentar lagi.”
“Oo,yauda. Hati-hati ya, maaf gak bisa nganterin”
“Hadeh, yawes mas. Tak pulang dewe. Tau gitu gag usah sok nanya-nanya -.-“ gumamku dalam hati dengan kecewa.
Ia kembali bersiap di jok sepedanya dan mulai menyalakan mesin motor yang tadinya tak jadi dinyalakan. Dengan suara bising kendaraan bermotor, kawanan kakak kelas meluncur bagai seorang pembalap profesional. Melihat mereka yang semakin jauh menembus gelapnya jalanan, aku merasa semakin takut.
“Duuuh, sekolah ini kok gak punya lampu jalan sih. Kan gelap!! Mana sendirian lagi “, ujarku dengan kesal.
Aku hanya bisa terdiam dalam kesendirianku. Ku tahan rasa kantuk dan capek yang begitu berat mendera tubuhku. Ku coba menahan setetes demi tetes air mata yang selalu ingin jatuh di pipiku. Memang, aku merasakan takut yang luar biasa saat itu. Karena, aku terbilang ‘baru’ untuk mengenal daerah tersebut.
Di kejauhan ku lihat seorang pria cungkring yang mengendarai sepeda dengan perlahan,
“Apa itu kakak ya, samperin ah”
Rasa senang dan lega menemani langkah kaki untuk menuju pria tersebut.
“Maaf ya dek lama, tadi kakak solat dulu. Hehe”
“Alah, gapapa wes. Yang penting ayo sekarang cepet pulang, Capek nih”
“Mmm, iya iya. Tapi kita mampir ke bank dulu yah”
“Hashh, baiklah …!!”
Kakiku yang kesemutan menapakkan pada pedal sepeda, dan pantatku yang sedari siang hingga petang tak dapat kesempatan untuk dilemaskanpun kutaruh di atas jok sepeda.
“Haa, lega rasanya .. fiuh”
Kakakku mulai menjalankan sepedanya dengan hati-hati. Aku yang duduk di belakang hanya bisa menguap, menguap, dan menguap. Sesekali ku coba mencuri waktu untuk memejamkan mata, tapi di saat itu juga selalu terjadi pengereman mendadak. Alhasil aku tak bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan. Yaa, apa boleh buat. Lebih baik kunikmati saja perjalanan yang memakan waktu hingga 30 menit ini.
Waktu mengantarkan kami ke depan pintu gerbang Bank yang berada di Jalan Kawi Malang. Kakakku meninggalkan aku sejenak, dan berjalan masuk ke dalam Bank. Aku menunggu di luar pagar bersama sepeda motor milik ayahku. Kupikir ini tak kan lama, tetapi bosan juga menunggu. Mengapa ? Mengapa pekerjaanku hari ini hanya menunggu ? Menunggu itu membosankan. Apa ini karma ? Rasanya tak mungkin. Karena aku tak pernah membuat orang lain menungguku selama ini. Haaa, yasudahalah. Terima nasib saja.
Di dalam otak, telah melayang-layang semua rencanaku sesampainya di rumah nanti. Mulai dari mandi, makan, dan kemudian tidur. Aku tak peduli apakah aku mempunyai tanggungan berupa tugas sekolah atau harus belajar untuk ulangan. Yang penting dapat kuistirahatkan tubuh dan pikiranku walau sejenak. Daripada ujung-ujungnya stress. Siapa mau tanggung jawab.
Setelah sekian lama, pria cungkring itu pun muncul dengan membawa selembar kertas berwarna putih yang cepat-cepat ia selipkan di saku dalam jaket rockernya itu. Dengan rasa tidak peduli aku segera duduk manis kembali di jok sepeda. Seperti biasa, kakak cungkring yang satu ini melesat dengan cepat melintasi jalanan kota. Tanpa sadar aku telah menginjakkan kaki di depan pintu rumah. Segera kuucapkan “Assalamu’alaikum” , dan salah satu atau mungkin keseluruhan dari penghuni rumah menyahut “Waalaikum salaam “.
Tanpa pikir panjang, ku buang tasku di atas ranjang. Ku copoti segala atribut sekolah. Dengan cepat ku berlari menuju kamar mandi. Seusai mandi, ku lanjutkan dengan mencari sebuah piring dan sebuah sendok. Tentu saja, kegiatan yang ingin kulakukan adalah makan. Di atas meja, terdapat sepotong paha ayam goreng yang rupanya sudah dingin. Tapi tak apalah, yang penting ayam. Di sisi lain kudapati semangkuk sayur sop yang tak lagi memunculkan uapnya. Di dalam toples, terlihat beberapa buah kerupuk ikan yang dibeli ibu pagi tadi. Tak lupa sebelum makan aku berdoa. Meskipun sedang lapar berat, aku tak semudah itu untuk melahap semua yang ada di hadapanku dalam waktu kurang dari 5 menit. Tetap seperti biasa, kunikmati makanan itu dengan santai. Setelah kenyang, aku berjalan menuju kamar tidur dan membaringkan badanku di atas ranjang. Entah apa yang selanjutnya terjadi, aku tak tahu. Saking capeknya, aku tertidur dengan sangat lelap. Lebih dan lebih lelap daripada sebelumnya.
Alarm telpon genggam yang ku pasang tepat pukul 4.00 WIB tak sanggup membangunkanku dari tidur yang begitu nyenyak. Akhirnya, ibu yang mengambil alih peran untuk membangunkanku pada pukul 4.30 WIB. Untung saja aku masih bisa bangun pagi. Tentu aku sangat berterima kasih kepada ibuku. Selanjutnya, kegiatan yang biasa kulakukan setiap hari kembali kulakukan pada pagi itu.
Pagi itu, kakak perempuanku yang sudi mengantarku sampai ke sekolah. Sebenarnya, aku tak suka apabila dia yang mengantar. Sebab, persiapan yang dilakukan tak cukup dalam waktu 10 menit. Aku lah yang harus menunggu lagi. Untungnya aku tidak sampai telat untuk sampai ke sekolah.
Entah mengapa, aku masih merasakan kantuk yang amat sangat. Aku berjalan perlahan sambil melepas jaket biru yang selalu ku pakai ke sekolah. Memang peraturan di sekolah tak mengijinkan siapapun siswa untuk memakai jaket ke dalam lingkungan sekolah kecuali apabila ia mengalami sakit, itupun harus dengan ijin guru tatib.
“Sepertinya aku tak kan mengantuk”, kataku dalam hati.
Laki-laki yang semalam ngobrol denganku berpapasan di loby sekolah. Sepertinya dia pergi ke sekolah dengan mengendarai motor. Hal tersebut dapat disimpulkan dari arah datangnya yang dari parkiran.
“Dag dig dug dag dig dug”, degup jantungku terasa semakin kuat.
Ku layangkan pandanganku hanya tertuju pada laki-laki itu. Tak dapat lagi rasanya aku untuk menepis rasa bahagia. Aku tak berani menyapanya. Karena mungkin dia tak ingat kepadaku. Gelapnya malam kemarin membuat ia tak dapat melihat dengan jelas wajahku. Dia pun hanya memandangiku dengan tatapan heran. Sampai akhirnya kita berpisah di dua jalur. Namun rasa bahagia itu masih melekat dalam hatiku.
Bel berbunyi, menunjukkan waktu istirahat pertama untuk seluruh siswa. Seperti biasa, aku bersama ketiga temanku pergi ke kantin untuk membeli sesuatu yang dapat mengganjal perut kami. Sejujurnya aku malas untuk berjalan ke kantin meskipun itu hanya berjarak beberapa langkah saja dari kelas. Dengan ekspresi bermalas-malasan aku pergi juga ke kantin. Ku ambil sekotak susu dari sebuah lemari pendingin di stan nomor dua dari pojok kanan. Ku ulurkan sejumlah uang yang sekiranya cukup untuk membayar susu tersebut.
Merasa tak asing dengan parfum yang tercium dari badan seorang laki-laki di sebelahku, aku mencoba melirik untuk mengetahui siapa gerangan laki-laki di balik parfum tersebut. Mataku terbelalak, bersinar layaknya orang dapat rejeki. Ternyata eh ternyata dia lagi yang muncul. Serasa melekat telapak kaki pada keramik berwarna merah di kantin. Tentu saja, pandanganku tak terlalu menyiratkan bahwa aku senang melihatnya. Aku bersikap layaknya orang biasa. Tapi sialnya, teman-temanku telah selesai memilih jajanan yang cocok dengan mereka, yang membuat aku terpaksa kembali ke kelas.
Sebagai seorang muslim sejati, aku bersama teman-temanku tak lalai untuk melaksanakan solat sebagai tiang agama. Kami pergi ke mushola pada jam istirahat ke dua. Kami melepas sepatu beserta kaos kakinya dan meletakkannya di depan pintu UKS yang selalu terbuka. Segera kami mengambil air wudhlu, karena sepertinya imam telah mencapai rakaat yang ke dua. Tergopoh-gopoh kami menuju dalam mushola. Takut tak kebagian imam. Bersyukur kami masih dapat mengikuti imam pada rakaat ke tiga.
Aku sampai dulu untuk mengambil sepatu dan memakainya. Di antara ketiga temanku, yang paling lamban dalam memakai sepatu memang diriku. Oleh karena itu aku mendahului mereka. Selalu tak sadar, dia telah berada persis di hadapanku namun berseberangan. Semakin kuperlambat pemakaian sepatuku. Perasaan senang tak dapat kututupi.
“Asiik, ketemu lagi. Senangnyaaa…??”, ujarku dalam hati.
Ketiga temanku datang menghampiriku tetapi aku tak memperhatikannya. Mereka segera memakai sepatu masing-masing. Aku masih menatapnya dengan tatapan tajam. dIa pun sesekali membalas tatapanku. Oooooh, betapa indah dunia dengan dipenuhi oleh laki-laki macam dia. Sesi tatap menatap itu tak berlangsung lama sampai akhirnya kami kembali ke kelas
Kebetulan atau memang di sengaja ? Aku tak tahu. Sudah seringkali aku berpapasan dengannya. Kesekian kali aku menatap wajahnya. Kesekian kali pula dia membalas tatapanku meski tanpa senyuman yang tersungging di wajahnya seperti waktu itu. Namun, dengan dia membalas tatapanku saja aku sudah cukup senang. Apalagi apabila dia say hello, tentu aku akan lebih senang. Momen-momen berharga itu tak dapat kulupakan. Aku selalu membayangkannya kembali apabila terdapat waktu luang. Senyum-senyum sendiri pun ku lakukan. Aku belum menceritakan hal ini pada siapapun, pantaslah apabila mereka menganggapku terkena gangguan jiwa karena senyum-senyum sendiri. Tak apalah, toh aku baik-baik saja, malah jauh lebih baik.
Haaa, untung saja hal ini tak sampai mengganggu konsentrasi belajarku. Karena aku yang selalu memikirkan senyum manis, wajah tampan, dan sikap lemah lembut yang ditunjukkannya padaku. Seolah ia tertarik dan ingin lebih dekat denganku. Hingga aku tersadar dengan pertanyaan, “Siapa Namanya?”. Tuhaan, selama ini aku belum juga mengetahui nama laki-laki itu. Betapa bodohnya aku dengan fakta seperti itu.
_The End_
Cerpen ini dibikin pas kelas 1 SMA. dibilang kisah nyataaa ... iya juga sih. Tapi ada beberapa yang diedit hehe :p




Tidak ada komentar:
Posting Komentar